BAB II: HALAL DAN HARAM DALAM AKIDAH
Akidah adalah keyakinan, pikiran, dan pendirian manusia mengenai segala sesuatu. Akidah Islam artinya keyakinan, pikiran, dan kepribadian yang diajarkan dalam Islam. Maka pembahasan halal dan haram dalam akidah akan membahas keyakinan, pikiran, dan pendirian yang benar serta halal dan keyakinan, pikiran, dan pendirian yang salah serta haram.
Akan tetapi pokok-pokok perkara yang halal dalam akidah merupakan perkara yang wajib, artinya setiap manusia wajib berkeyakinan, berpikiran, dan berpendirian yang benar. Tidak ada perkara halal yang termasuk mubah dalam akidah dan ibadah, tidak seperti dalam makanan, minuman, dan pakaian, serta harta lainnya.
Akidah sangat berpengaruh kepada tingkah laku seseorang. Orang yang akidahnya benar akan suka berbuat kebaikan. Ia akan banyak bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Sedangkan orang yang akidahnya salah tidak akan menyukai kebaikan dan ia tidak akan bermanfaat bagi dirinya karena semua perbuatannya akan mencelakakan dirinya sendiri. Apa lagi bagi orang lain.
Akidah yang benar itu seperti pohon yang baik yang akarnya menancap kuat ke dalam tanah dan dahan serta rantingnya menjulang ke atas, dan pada setiap saat ia dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dengan seizin Tuhannya. Sedangkan akidah yang salah ibarat pohon yang tercabut dari permukaan bumi dan tidak memiliki pijakan bagi akar-akarnya. Maka tentu pohon yang tercabut itu tidak akan bertahan hidup. Apa lagi menghasilkan buah yang bermanfaat.
Iman lawan kufur (kekafiran)
Iman artinya meyakini kebenaran ajaran Islam dan bersedia melaksanakannya. Lawannya adalah kufur, yaitu mengingkari kebenaran ajaran Islam dan menolaknya. Maka kalau kalian meyakini bahwa seluruh keterangan dalam Al-Quran itu benar dan kalian bersedia melaksanakannya, maka kalian adalah orang yang beriman. Kemudian kalian akan selalu berkata dengan benar dan berbuat dengan benar sesuai dengan keterangan dalam Al-Quran itu.
Di antara keterangan dalam Al-Quran yang harus kita imani adalah adanya kehidupan akhirat sebagai kelanjutan hidup di dunia. Kehidupan di akhirat sangat ditentukan oleh apa yang kita lakukan di dunia ini, karena kehidupan di akhirat merupakan saat pembalasan bagi kebaikan dan kejahatan manusia ketika di dunia. Maka orang yang meyakini adanya kehidupan akhirat akan senantiasa mempertimbangkan apakah perbuatannya mendatangkan pahala atau mendatangkan dosa. Maka, bukti kongkrit iman kepada akhirat adalah senang kepada pahala dan takut kepada dosa, menempuh jalan menuju surga dan menghindari jalan ke neraka.
Beriman itu wajib dan merupakan kunci masuk surga, sedangkan kufur itu haram dan merupakan perbuatan dosa yang paling besar yang pasti menjerumuskan pelakunya ke neraka.
Takwa lawan fusuq (kefasikan)
Takwa artinya tunduk dan taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Lawannya adalah fusuq, yaitu melanggar perintah dan larangan Allah. Orang Islam yang bertakwa disebut Muttaqin. Sedang orang Islam yang melakukan fusuq disebut fasiq. Segala tindakan orang muttaqin mendatangkan pahala, sedangkan tindakan orang yang fasiq mendatangkan dosa.
Kalian pasti sudah mengetahui sebagian dari perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Maka, lakukanlah perintah Allah yang kalian ketahui dan jauhilah larangan-Nya sejauh mungkin agar kalian semakin bertakwa. Ustadz-ustadz kalian juga pasti sudah menerangkan tentang mana yang halal dan mana haram atau mana yang boleh kalian lakukan dan mana yang tidak boleh kalian lakukan. Maka keterangan dan nasihat ustadz itu harus kalian perhatikan. Kalau masih penasaran tanyakan lagi kepada orang tua kalian, ustadz kalian, dan orang-orang yang kalian anggap mengetahuinya.
Cobalah kalian koreksi diri kalian sendiri! Apakah kalian lebih banyak melaksanakan perintah Allah ataukah justru lebih banyak meninggalkannya? Apakah kalian lebih banyak menjauhi larangan-Nya ataukah justru lebih banyak melanggarnya? Bagaimanakah dengan shalat yang
Kalian sendirilah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan kalian jugalah yang bisa memperbaikinya kalau kalian ingin sukses di dunia dan di akhirat.
Kalau kalian memperbaiki tingkah laku kalian, berarti kalian bertakwa. Kalau kalian memelihara kejahatan-kejahatan kalian berarti kalian tidak sayang kepada diri sendiri. Kalau kalian tidak sayang kepada diri sendiri, maka Allah pun akan mencabut kasih sayang-Nya kepada kalian. Na`ûdzu billâh min dzâlik.
Ikhlas lawan riya
Kalian pasti pernah mendengar kata-kata ikhlas. Kalau kalian shalat dengan ikhlas artinya kalian melaksanakan shalat semata-mata karena menaati perintah Allah dan untuk mengharapkan pahala dari-Nya, bukan karena dipaksa orang tua atau untuk mengharapkan pujiannya. Mungkin pada awalnya kalian shalat karena teman-teman kalian suka ramai-ramai shalat di masjid, lalu kalian tertarik.
Lawan ikhlas adalah riya, yaitu melakukan kebaikan dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dari sesama manusia, seperti supaya dianggap sebagai orang baik. Orang yang melakukan kebaikan dengan riya berarti ia menunjuk saingan bagi Allah atau mempertuhankan sesama manusia, karena ia melakukan kebaikan bukan karena dorongan iman kepada Allah dan bukan untuk mendapatkan pahala dari Allah, melainkan ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Maka Rasulullah Saw. menyebut riya sebagai syirik kecil. Dan justru karena kecil itulah beliau sangat mengkhawatirkan hal itu menjangkiti umatnya. Sebab orang yang riya itu pada umumnya tidak merasa bersalah.
Orang yang ikhlas akan tetap berbuat kebaikan meskipun tidak ada orang yang melihatnya, bahkan ia lebih senang kalau berbuat baik tidak diketahui orang lain. Tapi kalaupun ada orang yang mengetahuinya, ia tidak akan berubah menjadi bangga dengan kebaikannya itu. Sebaliknya orang yang suka riya biasanya tidak akan jadi berbuat kebaikan kalau tidak ada orang yang mengetahuinya.
Kebaikan yang akan diterima Allah hanyalah kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Jadi orang yang suka riya itu rugi besar; sudah kebaikannya sedikit, tidak diterima lagi! Malah ia berdosa karena melakukan kemusyrikan, meskipun kecil. Ikhlas itu wajib, sedangkan riya itu haram.
Tauhid lawan syirik
Lâ ilâha illallâh (Tidak ada Tuhan selain Allah) disebut kalimah tauhid. Mengapa? Karena kalimat itu menyatakan bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan. Jadi tauhid artinya menyakini keesaan Allah.
Tidak ada satu pun dari seluruh makhluq Allah yang menyerupai-Nya. Maka Allah tidak dapat dibayangkan bentuk-Nya. Seluruh makhluq tercipta dan segala sesuatu terjadi di alam raya ini atas kehendak-Nya. Dan apapun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi karena tidak ada seorang pun yang mampu menandingi kekuasaan-Nya.
^-^
0 komentar:
Poskan Komentar